PONSEL yang sehari-hari kita pakai tak dapat lepas dari suatu alat yang namanya charger. Setiap pemilik ponsel pastilah mempunyai alat ini. Fungsi charger adalah untuk mengisi ulang baterai ponsel sehingga ponsel dapat digunakan lagi.
Untuk mengisi ulang baterai ponsel diperlukan daya listrik dan lazimnya kita mengambil daya listrik dari rumah atau kantor. Tetapi charger semacam ini hanya bisa digunakan di tempat tertentu yang menyediakan colokan listrik.
Teknologi alat pengisi ulang baterai pun juga ikut berkembang sesuai kebutuhan pengguna. Kemudian lahirlah charger yang disa digunakan di mobil. Tinggal colokkan pada pemantik rokok yang ada di mobil maka selama perjalanan ponsel kita akan terisi ulang baterainya.
Namun model ini pun juga terbatas hanya bagi mereka yang menggunakan mobil. Setelah itu muncul charger ponsel yang menggunakan batu baterai, dengan charger ini kegiatan ritual mengisi baterai ponsel dapat dilakukan di mana saja.
Dengan perkembangan teknologi yang semakin canggih, para peneliti Nokia mencoba mengembangkan cara baru mengisi ulang baterai ponsel dengan metode inovatif. Pada saat mengisi ulang baterai, mereka tak lagi memanfaatkan sumber energi listrik tapi menggunakan ambient radio waves (gelombang radio ambient).
Nokia berhasrat menciptakan sebuah perangkat yang mampu menghasilkan daya sendiri tanpa bergantung pada charger. Teknologi ini dinamakan Wireless Power Harvesting. Ini adalah sebuah perangkat yang ditanam pada ponsel sehingga tidak perlu lagi mengisi daya listrik untuk mengaktifkannya. Jika hal ini menjadi kenyataan, akan sangat efisien mengingat pengisian daya saat ini masih bergantung pada charger dan listrik.
Konversi
Radiasi ambient electromagnetic yang terpancar dari transmiter Wi-Fi, sel antena telepon, stasiun TV dan sumber-sumber lain dapat dikonversi menjadi listrik yang cukup menjaga baterai tetap terisia. Pernyataan ini disampaikan peneliti dari Nokia Research Centre.
Sayang, teknologi Nokia ini belum dapat dimanfaatkan untuk sesuatu yang lebih besar seperti menerangi rumah atau kantor. Tapi setidaknya, teknologi ini cukup untuk menjaga telepon tetap hidup. Perangkat prototipe ini bisa mengumpulkan sekitar 3,5 milliwatt sumber energi dari radiasi elektromagnetik yang mirip seperti pada perangkat Wi-Fi, antena ponsel, dan antena TV.
Nokia, dalam blognya mengatakan masih mencoba agar perangkat ini bisa menangkap hingga 50 milliwatt sumber energi. Dengan kapasitas sebesar itu, perangkat charger akan cukup untuk mengisi ulang tenaga baterai ponsel.
Selama ini, TV, radio, dan sistem telepon selular lainnya membuang energi sia-sia ke udara.
Dengan sistem ini, Nokia mampu mengambil gelombang-gelombang terbuang ini dan dikumpulkan sebagai gelombang elektromagnetik untuk dibuat menjadi energi listrik, yang kemudian dipakai untuk mengisi ulang baterai ponsel.
Saat ini Nokia dapat menyerap listrik sebesar 5 milliwatts dari udara, yang bertujuan untuk meningkatkan daya mencapai 20 milliwatts dalam jangka pendek dan 50 milliwatts dalam jangka panjang. Memang belum cukup untuk mempertahankan ponsel hidup selama panggilan aktif, akan tetapi cukup untuk mengisi ulang ponsel dalam kondisi tetap hidup atau siaga. Secara teoritis, teknologi ini menawarkan daya tak terbatas.
Awal tahun ini, Joshua R Smith dari Intel dan Alanson Sample dari Universitas Washington Seattle, AS, mengatakan bahwa untuk mendapatkan 50 milliwatts, mereka memerlukan sekitar 1.000 sinyal yang kuat dan antena yang mampu mengambil frekuensi pada kisaran yang akan mengakibatkan kerugian efisiensi.
Akankah teknologi ini dapat kita nikmati sehingga tidak perlu khawatir bila ketinggalan <I>charger<P>? Yang pasti Nokia sendiri saat ini tengah membentuk tim khusus dalam menciptakan alat tersebut. Penelitian dilakukan di Nokia Research Center yang berlokasi di Cambridge, Inggris. Sementara target waktu terealisasinya charger nirkabel ini adalah pada 2013.

Leave a Reply