Menyaksikan Langsung Pengepungan Teroris
Blogprint August 22nd, 2009Menyaksikan Langsung
Pengepungan Teroris
<B>BAGI<P> warga sekitar rumahku, menonton siaran langsung televisi tentang penggerebekan teroris beberapa waktu lalu, tidak ada bedanya dengan melongok keluar jendela. Kelihatan sekumpulan Tim Densus 88 mondar-mandir berjaga-jaga di dusun Beji, Kecamatan Kedu, Temanggung. Bukit samping rumah yang dikepung petugas dulunya adalah tempat mainku waktu kecil. Kadang aku juga suka cari belut di sawah depan rumah itu.
Sebagai warga Kedu, aku pikir Jumat (7/8) sore itu cuma penggrebekan biasa. Bahkan daripada nonton TKP, mending aku nerusin menjalin jaring gawang untuk pertandingan futsal di lapangan pinggir sawah. Tapi karena <I>TV One<P> dan <I>Metro TV<P> menayangkan situasi desaku secara <I>live<P>, Sabtu pagi harinya ratusan kendaraan menuju Beji (kalau orangnya tidak terhitung ada berapa) karena saat itu rumor yang beredar, orang yang berada di dalam rumah itu adalah Noordin M Top.
Dari atas kuburan aku ambil posisi paling nyaman menyaksikan drama baku hantam antara polisi dengan polisi juga sepertinya. Karena setahuku dan warga sekitar, bahkan Mas Suyono Sugondo, kontributor <I>Metro TV<P> yang sudah <I>stanby<P> di TKP sejak Jumat tengah malam kemarin, tidak didapati adanya serangan balasan dari dalam rumah.
Dari atas kuburan yang hanya berjarak sekitar 100 meter dari tempat persembunyian teroris yang ternyata Ibrahim itu, terlihat jelas asap yang mengepul setelah samping rumah setelah diledakkan dengan bom dengan daya yang lumayan besar. Beberapa anak menangis ketakutan. Di kanan-kiriku anak-anak sekolah dan bapak-bapak pada bolos dari kewajiban mereka.
Sesekali terdengar misuh-misuh petani tembakau yang tak rela tanamannya rusak karena ulah wartawan dan warga yang berdesak-desakan di sawah. Pagi harinya, karena masih ramai, belasan orang tetanggaku ngobyek memarkirkan kendaraan di pelataran penggilingan padi dekat TKP. Sesiang ada 900-an motor dan puluhan mobil yang datang dari Temanggung dan luar kota.
Ada yang dari Kendal, Semarang, Muntilan, dan Sukorejo datang ke sini hanya untuk foto-foto di rumah remuk itu. Lumayan pendapatan warga dari ngobyek parkiran mencapai dua juta rupiah. Yang juga kecipratan rejeki, penjual es dan bakso, omzetnya melonjak drastis saat dijajakan di lokasi sekitar TKP. (45)
Oleh <B>Lutfi Syarifudin<P>
Oleh Lutfi Syarifudin

BAGI warga sekitar rumahku, menonton siaran langsung televisi tentang penggerebekan teroris beberapa waktu lalu, tidak ada bedanya dengan melongok keluar jendela. Kelihatan sekumpulan Tim Densus 88 mondar-mandir berjaga-jaga di dusun Beji, Kecamatan Kedu, Temanggung. Bukit samping rumah yang dikepung petugas dulunya adalah tempat mainku waktu kecil. Kadang aku juga suka cari belut di sawah depan rumah itu.
Sebagai warga Kedu, aku pikir Jumat (7/8) sore itu cuma penggrebekan biasa. Bahkan daripada nonton TKP, mending aku nerusin menjalin jaring gawang untuk pertandingan futsal di lapangan pinggir sawah. Tapi karena TV One dan Metro TV menayangkan situasi desaku secara live, Sabtu pagi harinya ratusan kendaraan menuju Beji (kalau orangnya tidak terhitung ada berapa) karena saat itu rumor yang beredar, orang yang berada di dalam rumah itu adalah Noordin M Top.
Dari atas kuburan aku ambil posisi paling nyaman menyaksikan drama baku hantam antara polisi dengan polisi juga sepertinya. Karena setahuku dan warga sekitar, bahkan Mas Suyono Sugondo, kontributor Metro TV yang sudah stanby di TKP sejak Jumat tengah malam kemarin, tidak didapati adanya serangan balasan dari dalam rumah.
Dari atas kuburan yang hanya berjarak sekitar 100 meter dari tempat persembunyian teroris yang ternyata Ibrahim itu, terlihat jelas asap yang mengepul setelah samping rumah setelah diledakkan dengan bom dengan daya yang lumayan besar. Beberapa anak menangis ketakutan. Di kanan-kiriku anak-anak sekolah dan bapak-bapak pada bolos dari kewajiban mereka.
Sesekali terdengar misuh-misuh petani tembakau yang tak rela tanamannya rusak karena ulah wartawan dan warga yang berdesak-desakan di sawah. Pagi harinya, karena masih ramai, belasan orang tetanggaku ngobyek memarkirkan kendaraan di pelataran penggilingan padi dekat TKP. Sesiang ada 900-an motor dan puluhan mobil yang datang dari Temanggung dan luar kota.
Ada yang dari Kendal, Semarang, Muntilan, dan Sukorejo datang ke sini hanya untuk foto-foto di rumah remuk itu. Lumayan pendapatan warga dari ngobyek parkiran mencapai dua juta rupiah. Yang juga kecipratan rejeki, penjual es dan bakso, omzetnya melonjak drastis saat dijajakan di lokasi sekitar TKP.



